Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Desember 2010

Mengapa Kita Membaca AlQuran Meskipun Tidak Mengerti Satupun Artinya?

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.

Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.

Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”

Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.

sumber : http://kask.us/5471573

Rabu, 11 Agustus 2010

Memberi Singkong, Mendapat Kambing

Seorang santri bernama Ali, pergi ke kebunnya lalu mengambil singkong. Dia ingin memberikan singkong kepada kiai-nya. Dan Ali pun mengantarkan singkong tersebut ke rumah Pak Kiyai. Ali berkata, "Pak Kiai, ini ada singkong, hasil dari kebun saya, saya ingin memberikan pada Pak Kiai."

Pak Kiai senang dan berkata, "Terima Kasih Ali, engkau anak yang baik, engkau memberi singkong kepada pada saya." Selanjutnya, Pak Kiai berkata pada istrinya, "Bu, ini si Ali membawakan kita singkong. Nanti kita beri apa untuk si Ali?" Kata istri Kiai, "Ini ada seekor kambing pemberian orang kaya." Kata Pak Kiai, "Baiklah, Ali karena engkau telah memberiku singkong, maka aku memberi engkau kambing ini, bawa pulanglah, peliharalah." "Terima kasih Pak Kiai", kata Ali.

Di dalam perjalanan pulang ke rumahnya, sambil menuntun kambing pemberian kiainya, si Ali bertemu dengan temannya bernama Umar. Dengan wajah agak penasaran, Umar bertanya, "Ali, dari mana engkau mendapatkan kambing itu?" Ali menjawab, "Tadi saya ke rumah Pak Kiai memberi singkong, eh... malah saya diberi kambing oleh Pak Kiai." 

Di hati kecilnya Umar berkata, "Kalau Ali memberi singkong saja dibalas dengan kambing oleh Pak Kiai, bagaimana kalau aku memberi apel pada Pak Kiai."

Akhirnya, Umar pergi ke pasar membeli beberapa kilo apel, lalu diantar ke Pak Kiai. Umar berkata, "Pak Kiai, ini ada apel, pemberian sekedarnya dari saya untuk Pak Kiai." Kiai berkata, "Alhamdulillah, terima kasih Umar, engkau anak baik, engkau memberikan saya apel. Terima kasih."

Selanjtnya, Pak Kiai berkata kepada istrinya, "Bu, ini Umar datang membawa apel untuk kita, nanti kita beri apa untuk Umar?" Segera istri Pak Kiai menjawab, "Tidak ada apa-apa lagi Pak. Kambing pemberian orang kaya, sudah diberikan pada Ali. Yang tersisa  di sini, yah... singkong pemberian si Ali itu."

Maka, Pak Kiai-pun berkata kepada Umar, "Wahai Umar, karena engkau telah membawakan apel untuk saya, maka sebagai tanda terima kasih saya, ambillah singkong ini untukmu. Bawa pulanglah."

Tentu Umar sangat kecewa, karena sesungguhnya yang ia harapkan dari Pak Kiai adalah lebih dari kambing yang telah diberikan Pak Kiai kepada Ali.

Demikianlah balasan untuk "keikhlasan" dan juga "ketidakikhlasan". Dimana-mana kita mendapati orang yang ikhlas, yang berbuat baik semata-mata untuk meraih ridha Allah, maka mereka memperoleh ketenangan hati, tidak mengalami kekecewaan, bahkan boleh jadi, mereka akan mendapatkan balasan materi yang lebih banyak dan lebih baik dengan kehendak Allah, sebagai balasan atas pemberian mereka yang ikhlas itu.

Sumber :

Amin, Muhammad Rusli. 2005. Canda-Canda Sufistik. Jakarta : Al-Mawardi.

Menangkap Iblis

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Nabi Sulaiman a.s. memohon kepada Allah, "Ya Allah, Engkau telah menundukkan bagiku, manusia, jin, binatang buas, burung-burung dan para malaikat. Ya Allah, aku ingin menangkap iblis lalu memenjarakannya, merantai serta mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat maksiat dan dosa lagi."

Kemudian Allah Swt mewahyukan kepada Nabi Sulaiman a.s, "Wahai Sulaiman, tidak ada kebaikannya jika iblis ditangkap". Namun Nabi Sulaiman tetap memohon, "Ya Allah, keberadaan makhluk terkutuk ini tidak memiliki kebaikan didalamnya".

Allah Swt berfirman, "Jika iblis tidak ada, maka banyak manusia yang akan meninggalkan pekerjaan mereka." Nabi Sulaiman tetap memohon, "Ya Allah, aku ingin menangkap makhluk terkutuk itu untuk beberapa hari saja."

Allah berfiman, "Bismillah, tangkaplah iblis itu." Maka, Nabi Sulaiman a.s. menangkap iblis itu, kemudian beliau merantai dan memenjarakannya.

Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman juga merajut tas dan beliau makan dari hasil jerih-payahnya sendiri dengan merajut tas itu. Suatu hari, beliau membuat tas untuk dijual ke pasar. Dari hasil penjualan itu, beliau akan membeli gandum sekedarnya untuk membuat roti. Padahal dalam riwayat disebutkan, bahwa setiap hari di dapur istana Nabi Sulaiman, dimasak 4000 unta, 5000 sapi dan 6000 kambing. Meski demikian, Nabi Sulaiman tetap membuat tas dan menjualnya ke pasar untuk mencari nafkah.

Keesokan harinya, Nabi Sulaiman a.s. mengutus anak buahnya untuk menjualkan tasnya ke pasar. Mereka kaget, karena pasar tutup dan tidak ada sama sekali orang-orang yang berdagang. Mereka kembali dan mengabarkan itu kepada Nabi Sulaiman.

Nabi Sulaiman a.s. bertanya, "sebenarnya apa yang terjadi?" Mereka menjawab, "Kami tidak tahu."

Akhirnya, tas buatan Nabi Sulaiman tidak bisa dijual. Malam itu, Nabi Sulaiman hanya minum segelas air. Keesokan harinya, anak buah Nabi Sulaiman kembali ke pasar untuk menjual tas, akan tetapi mereka kembali dengan membawa berita bahwa pasar telah tutup. Orang-orang pergi ke kuburan. Mereka sibuk menangis dan meratap. Semua orang bersiap-siap melakukan perjalanan ke alam akhirat.

Maka, Nabi Sulaiman a.s. bertanya kepada Allah, "Ya Allah, apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa orang-orang tidak lagi mau bekerja mencari nafkah?"

Lalu Allah Swt mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, "Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis, akibatnya manusia tidak lagi begairah bekerja mencari nafkah. Bukankah sebelumnya telah Aku katakan kepadamu bahwa menangkap iblis itu tidak mendatangkan kebaikan?"

Mendengar itu, maka segera Nabi Sulaiman a.s. membebaskan iblis yang dirantai dan dipenjarakannya. Keesokan harinya orang-orang bergegas ke pasar dan sibuk bekerja mencari nafkah... (Dikutip dari buku: Dostonho ye az Khudho, Karya Ahmad Mirkhalaf Zadeh dan Qasim Mirkhalaf Zadeh, terjemahan Indonesia berjudul "Kisah-kisah Allah")

Sumber :

Amin, Muhammad Rusli. 2005. Canda-Canda Sufistik. Jakarta : Al-Mawardi.

Jumat, 02 Juli 2010

Pelajaran dari Nasruddin Hoja

...

Marcopolo kaget menyaksikan kejadian aneh di dalam area pemakaman. Dia melihat empat orang lelaki. Tiga orang duduk berbaris di belakang sebuah makam yang baru digali. Yang paling depan seorang Arab bersorban, dibelakangnya seorang pemuda China yang sedang menangis, dan paling belakang adalah rahib tua yang bersedekap dengan agungnya. Sementara di depan mereka, di seberang liang kubur, tampak seekor keledai merumput dengan acuhnya. Setelah ia perhatikan, ada satu hal yang membuatnya berhenti dan tidak jadi mendekat.

Seorang Arab itu sedang berbicara dengan keledai. "Tolonglah saya, Nasruddin", katanya dengan nada memelas. "Saya benar-benar senewen. Saya tidak betah tinggal di rumah sendiri. Rasanya seperti di dalam neraka. Istri dan mertua saya tiap hari kerjanya mengomel terus. Dari pagi hingga pagi lagi. Dan anak-anak saya memperlakukan seluruh ruangan sebagai tiruan medan perang badar. Semua kacau dan ribut. Bagaimana saya bisa istirahat?".

Terdengar batuk yang keras, disusul suara serak bertanya, "Kau ingin tinggal di rumah dengan perasaan lebih nyaman?"

ia terpana. Bukan keledai itu yang berbicara. Tapi bukan berarti berkurang keanehannya. Suara itu berasal dari dalam liang kubur!.

Si orang Arab mengangguk-angguk sampai sorbannya mau jatuh. "Tidak ada yang lebih kuinginkan selain itu."

"Gampang kalau begitu", suara serak itu terdengar lagi.

"Bagaimana?" Si orang Arab berbinar penuh harap.

"Kau punya kuda?" suara serak itu balik bertanya.

"Dua", jawab si orang Arab.

"Lembu?"

"Tiga."

"Kambing?"

"selusin."

"Ayam?"

"Banyak."

"Di mana kau menaruh mereka?"

"Dalam satu kandang."

"Bagus", suara serak itu terdengar puas. "Mulai besok, kau pindah ke kandang dan tinggal di sana selama sebulan. Dijamin setelah itu kau akan merasa lebih nyaman tinggal di rumah. Kau bisa melakukannya?. Bagus. Biaya konsultasiku sepuluh dukat. Pasien berikutnya!"

Marcopolo ternganga. Itu cara pemecahan paling gila yang pernah kudengar. Saran yang hanya mungkin keluar dari mulut orang yang tidak waras. Tapi sesaat kemudian, setelah kupikir-pikir, ia baru menyadari sesuatu.

Itu juga saran yang jenius!

Setelah si orang Arab membayar biaya konsultasi dan pergi, kini giliran si pemuda China beringsut ke tepi liang kubur. Air matanya masih terus menetes.

"Ada masalah apa, Koh?" suara itu bertanya dengan bahasa China yang fasih.

"Kau harus menolongku, Mullah." Suara orang China ini jauh lebih memelas lagi. "Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan rasanya ingin mati saja."

"Itu artinya cuma satu, patah hati."

Orang China itu mengangguk. "Kekasihku pergi meninggalkan aku. Dia kabur dengan seorang saudagar kaya dari Siam. Aku ingin dia kembali padaku. Bagaimana caranya?"

Orang China itu berhenti. Menunggu yang ditanya menjawab. Tapi, entah kenapa tidak ada sahutan yang terdengar. Kubuaran itu sesunyi... kuburan.

"Mullah?" si orang China bertanya lagi dengan heran. "Kenapa engkau malah diam saja?"

Terdengar batuk tertahan. Seperti batuk orang tersedak.

"Kau benar-benar ingin kekasihmu kembali?"

"Hanya itu yang kuinginkan sekarang!"

"Baiklah, terima ini." Sebuah kantung kecil terlontar dari dalam liang kubur.

"Apa isinya, wahai Mullah?"

"Tanah kuburan."

"Tanah kuburan?"

"Kau tak salah dengar."

"Apa yang harus kulakukan dengan tanah kuburan ini?"

"Taburkan itu ke halaman rumahnya. Niscaya dia akan kembali padamu."

"Terima kasih, Mullah."

"Biayanya sepuluh dukat."

"Aku akan memberimu dua puluh."

"Terserah."

Orang China itu mulai bangkit dan hendak beranjak pergi dengan wajah berseri.

"Tunggu." Tiba-tiba suara serak itu memanggilnya lagi.

"Ya, Mullah?"

"Kau juga harus membawa ini." Sebuah sekop terjulur dari dalam liang kubur.

"Untuk apa?"

"Kau harus mulai berlatih dari sekarang, agar saat menggantikanku kelak, kau tak akan gampang kena encok sepertiku."

Si orang China terperanjat. "Menggantikanmu? Mengapa aku ingin menggantikanmu?"

"Kau akan menjadi sepertiku kalau kau pakai jampi itu."

"Aku... aku tidak mengerti maksudmu."

Terdengar helaan napas. "Kau tahu kenapa aku disini?"

Orang China itu menggeleng.

Kembali terdengar batuk keras disusul deham untuk melancarkan tenggorokan. "Kau tahu, Nak, sungguh salah kalau asmara itu diistilahkan jatuh hati. Saat kita dimabuk cinta, yang jauh bukanlah hati, melainkan akal sehat kita. Seperti yang kau lakukan sekarang, aku dulu minta jampi-jampi untuk mendapatkan seorang perempuan bermuka dua seperti yang kau kejar itu. Jampi-jampi itu berhasil. Tapi apa yang kudapat sekarang? Hidup bertahun-tahun dalam pertengkaran sebelum ditendang dari rumahku sendiri, bahkan harus minggat dari negeriku sendiri, hanya dengan baju yang melekat dan seekor keledai tolol. Beruntung Mullah Umar mau menampungku tinggal di masjidnya sekaligus memperkerjakan aku sebagai tukang gali kubur. Nah, karena kau melakukan hal yang sama untuk seorang perempuan yang sama, aku yakin nasibmu akan sama sepertiku. Jadi tukang gali kubur."

Orang China itu menggeleng. "Tidak, aku tidak akan bernasib sepertimu. Dia tak akan melakukan hal seperti itu padaku."

"Kenapa tidak?"

"Karena dia tidak sejahat itu. Kekasihku orangnya lembut dan penyayang."

"Kalau memang dia tidak sejahat itu, kenapa dia tega meninggalkanmu?"

Orang China itu terdiam sejenak. "Dia... dia hanya terpengaruh oleh kekayaan orang Siam itu."

"Apakah perempuan yang gampang terpengaruh oleh harta itu bukan perempuan yang jahat? Mungkin saja bukan. Tapi, apa kau yakin ingin hidup selamanya dengan perempuan yang mudah silau oleh harta orang lain? Kau yakin perempuan seperti itu yang kau inginkan?"

Hening. Orang China itu berhenti menangis. Ia menimbang-nimbang kantung di tangannya. "Tapi aku mencintainya..."

"Seperti kubilang tadi, cinta itu berbanding terbalik dengan akal sehat. Siapa pun jadi idiot kalau sedang dilanda cinta."

"Aku tidak bisa melupakannya," si orang China bersikeras.

"Makanya, bawa sekop ini dan mulailah berlatih menggali kubur dari sekarang."

Orang China itu menatap sekop yang diacung-acungkan di depan hidungnya, lalu ia menunduk ke kantung di tangannya. "Mungkin lebih baik aku bunuh diri saja, biar dia tahu betapa dalamnya cintaku padanya."

Terdengar dengusan dan suara terkekeh yang serak dari lubang kubur. "Ya, mungkin dia akhirnya akan tahu. Lalu kenapa? Kau mengharap dia berduka dan mengenangmu selamanya? Kau pikir perempuan yang sampai hati meninggalkan kekasihnya akan berlaku demikian? Kurasa tidak. Paling dia hanya kaget sebentar. Lalu hari demi hari berlalu, dan kehidupan kembali normal, dia melahirkan anak, punya tetangga baru, bercanda dan tertawa lagi. Hei, mungkin dia akan menjadikanmu sebagai bahan obrolan sore sebelum kembali ke kamar dan melayani orang Siam itu dengan mesra."

"Sudah, hentikan," Orang China itu menyeka air matanya dan menarik napas dalam-dalam. "Mungkin kau benar, Mullah. Aku memang pecundang yang bodoh."

"Kau ingin dunia mengenangmu sebagai pecundang yang bodoh, Nak?"

"Kurasa tidak..." sahut orang China itu dengan nada menggantung. Perlahan diletakkannya kantong berisi tanah di dekat liang kubur. Ia tidak jadi membawanya.

"Pulanglah," Suara serak tiba-tiba terdengar serius dan bijaksana. "Menangislah di kamar dan pecahkan semua barang di rumahmu seakan-akan semua itu adalah si orang Siam atau kekasihmu. Lakukan itu tiga kali sehari selama hatimu masih merasa sakit. Melampiaskan emosi adalah obat paling mujarab untuk patah hati dan semua gangguan jiwa lainnya. Emosi yang terpendam hanya akan membuatmu sinting atau menderita borok usus. Jika kau melakukannya secara teratur dan disiplin, paling lama sebulan lagi kau akan merasa jauh lebih baik. Tuh, kau sudah bisa menangis sekarang. Bawa kembali uangmu. Kau membutuhkannya untuk mengganti semua barang yang kau pecahkan nanti."

Orang China itu beranjak pergi sambil merenung. Marcopolo mengamatinya dari jauh. Ia memutuskan untuk menunggu sampai "pasien" yang terakhir mendapat gilirannya. Sang Rahib beridiri dengan sikap menantang di tepi liang kubur.

"Ada masalah, Rahib?" Tanya suara serak itu.

"Aku tidak punya masalah, orang tua," Sahut rahib itu cepat.

"Jadi, kau ingin memesan liang kubur?"

"Tidak, aku ingin menantangmu."

"Siapa paling cepat menggali kubur?"

"Tidak, tidak." Rahib itu menggeleng dengan sebal.

"Beberapa orang menganggapmu sinting, tapi sebagian menganggapmu sufi atau wali dengan kecerdasan yang tak terjangkau otak normal. Beberapa jemaahku malah ada yang menganggapmu Santo. Aku ingin membuktikan mana yang benar."

"Kau akan menggantungku dan melihat apakah aku akan bangkit di hari ketiga?"

"Tidak. Aku hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan."

"Apa pertanyaan itu?"

"Penganut agama apa yang lebih akrab dengan Tuhan?"

"Muslim, tentu saja."

"Kenapa?"

"Sebagian memanggil-Nya , 'Bapa', sebagian lain memanggilnya 'Om', tapi orang Muslim langsung memanggil nama panggilan-Nya."

"Bisakah Yang Maha Kuasa menciptakan sesuatu yang tidak bisa dikuasai-Nya?"

"Kau harus melihat istriku."

"Mengapa Tuhan menciptakan neraka?"

"Untuk menampung orang yang mengajukan pertanyaan semacam itu."

"Bisakah seekor keledai masuk kerajaan surga?"

"Aku tak ingin menyinggung perasaanmu."

Rahib itu tertawa terbahak-bahak.

"Sudah puas?"

"Satu lagi, ini pertanyaan pamungkas!"

"Silahkan."

"Jika kau memang seorang sufi yang cerdas, kenapa engkau sampai kalah dengan istrimu?"

Suara serak itu menjawab, "Menurutmu siapa yang menyebabkan Nabi Adam dibuang dari Surga?"

Rahib itu terpingkal-pingkal.

"Bagaimana kesimpulanmu, aku ini cendekia atau gila?"

"Kurasa dua-duanya."

"Kesimpulan yang bagus. Biayanya seratus dukat. Kau mengajukan banyak sekali pertanyaan. Pasien berikutnya!"

Sambil terus terpingkal-pingkal, rahib itu akhirnya pergi. Saat itulah, Marcopolo mendekati liang kubur, penasaran seperti apa sosok yang mampu melontarkan ucapan gila dan cerdas dalam waktu bersamaan itu.

...

Sumber : Wasistha, Nugraha. 2010. Sufi Nyentrik & Misteri Kota Terlarang. Jakarta : Dastan Books.

Kamis, 18 Februari 2010

Pentingnya Sebuah Nama

Ada dua kewajiban orang tua yang mutlak harus diberikan kepada putra-putrinya yang baru lahir, adalah :

1. Memberikan nama yang baik
2. Memberikan kasih sayang.
Hadist Rasulullah saw, menerangkan sebagai berikut :
"Sebagian dari pada kewajiban ayah terhadap anaknya, ialah beri dia nama yang baik, ajari dia menulis, dan kawinkan dia apabila ia baligh". (HR. Ibnu Najjar).

Nama merupakan segala sesuatu yang berarti bagi sang anak. Karena nama mengandung sebuah makna dan harapan dari kedua orang tuanya. untuk itu, hendaknya orang tua memberikan nama yang mempunyai harapan baik di hari depannya, sehingga menjadi motivasi bagi sang anak dalam mengarungi bahtera kehidupan. Selain mengandung makna dan harapan kedua orang tua, nama sangat berarti untuk kepentingan itu sendiri, karena nama merupakan predikat dan identitas seseorang.

Nama Berperanan untuk Harga Diri
Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya adalah memberikan nama yang baik. Nama yang diberikan orang tuanya seringkali menentukan kehormatannya. Dengan nama itu dapat menunjukkan identitas keluarganya, bangsa bahkan agama. Para ahli ilmu jiwa anak-anak maupun ahli pendidikan anak menyadari pentingnya nama dalam pembentukan konsep jati diri. Secara tidak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra (image, gambaran) yang terkandung dalam namanya. Teori labelling (penamaan) menjelaskan, kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. untuk itu Islam mengajarkan kepada umatnya "berilah nama yang baik kepada anak-anakmu". Karena nama mengandung unsur do'a dan harapan di masa yang akan datang.

Hak anak yang kedua dari orang tuanya ialah, mendapatkan kasih sayang. Banyak para orang tua secara fitri menyayangi anak-anaknya, tetapi sering kali kasih sayang itu tersembunyi. Anak-anak baru mengenal kecintaan orang tua mereka justru ketika orang tua itu sudah meninggal dunia. Sering kali para orang tua tidak mampu mengkomunikasikan kecintaannya. Untuk pertumbuhan kejiwaan mereka yang sehat, mereka memerlukan siraman cinta orang tua mereka.

Apa yang terjadi apabila anak kekurangan atau tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya. para ahli telah menemukan bahwa pada anak-anak yang mengalami maternal deprivation (pemisah dari ibu) secara fisik (misalnya, karena perceraian atau orang tuanya meninggal) atau secara psikologis (yakni ia tidak terpisah dari orang tuanya secara fisik, tetapi ia tidak mendapatkan kasih sayang yang memadai), ternyata cenderung menderita kecemasan, rasa tidak tenteram, rendah diri, kesepian, agresivitas, negativisme (cenderung melawan orang tua), dan pertumbuhan kepribadian yang lambat. Kekurangan kasih sayang menghambat aktualisasi potensi kecerdasan yang dimilikinya, sehingga anak menjadi sukar belajar.

Pikiran seorang anak, demikian pula fisiknya, memerlukan bantuan untuk pertumbuhannya. Ada tiga macam "siraman" yang penting untuk pertumbuhan pikirannya, yaitu bahasa, bermain, dan kasih sayang.

Sejak bulan pertama kehidupannya, seorang anak perlu diajak bercakap-cakap, didekap, dan diasuh penuh kasih sayang, diberi senyuman, didengarkan dan dirangsang untuk memberikan reaksi dengan bunyi-bunyian atau gerakan. Mereka perlu sentuhan, teman bicara, teman tertawa, memberikan respon dan menerima respon.

Kurangnya perhatian akan membuat mereka tidak bahagia. Anak yang kurang perhatian akan kehilangan semangat hidup, kehilangan selera makan, sehingga pikiran dan badannya tidak tumbuh dengan baik.

Anak-anak belajar dengan melakukan banyak hal. Dengan demikian dalam masa pertumbuhannya, mereka perlu kebebasan untuk mencari dan bermain. Bermain-main bukanlah kegiatan yang tidak berarti, tetapi sangat penting untuk pertumbuhan anak dan dapat membantu mengembangkan mental, sosial, dan keterampilan fisiknya, termasuk berbicara dan berjalan. Bermain dapat merangsang rasa ingin tahu, kecakapan serta rasa percaya diri seorang anak. Bermain juga merupakan landasan sebagai dasar untuk mampu melakukan pekerjaan sekolahnya, mempelajari beberapa keterampilan yang perlu untuk kehidupan kemudian hari.

Bermain tidak selalu berarti menyelesaikan masalah atau mencapai apa saja yang direncanakan oleh orang tuanya. Akan tetapi, permainan anak-anak itu sendiri sangatlah penting sebagai dasar dalam mengenali potensi dirinya sendiri.

Merangsang anak-anak bermain dengan menyediakan barang-barang dan bermacam ide serta bahan adalah cara yang baik dalam membangun kreativitas anak. Alat permainan tidak selalu harus mahal. Dus-dus kosong atau alat rumah tangga sama bermanfaatnya dengan mainan-mainan yang mahal. permainan yang imajinatif, misalnya yang dapat berperan sebagai orang tua, sangatlah penting untuk perkembangan anak.

Anak perlu bantuan untuk mengembangkan daya cipta, mereka perlu tantangan untuk dapat memecahkan masalah dan memutuskan apa yang terbaik. Anak perlu menyatakan keinginannya dan keputusannya dan melihat apa yang akan terjadi.

Bernyanyi dan belajar irama, menggambar, membaca cerita dengan suara keras dapat membantu perkembangan pikiran anak dan mempersiapkan anak untuk belajar menulis dan membaca. Agar dapat tumbuh sehat, semua anak harus diberi pujian dan sanjungan atas semua hasil karyanya.

Semua orang dapat didukung untuk melakukan apa saja, dan tidak terkecuali anak-anak, adalah dukungan sosial. Hal ini biasanya berbentuk pujian atau boleh juga apa saja yang mengungkapkan perhatian, senyuman, lirikan, pelukan, kecupan, dekapan, perhatian yang mendalam, dan mendengarkan yang baik. Masalah orang tua yang utama ialah ketika harus bergaul dengan anak-anaknya pada saat mereka kurang menyukainya. Bila ayah pulang larut malam, ia lelah. Bila ibu juga pulang terlambat, ia kecapekan. Dan mereka harus melakukan banyak hal, bekerja sebagai panitia, menjalankan fungsi sosial, edukatif, dan lain-lain. Lalu apa yang sebaiknya harus dilakukan orang tua ?

Manfaatkanlah waktu yang ada. Pertama janganlah merasa terbebani dengan adanya anak. Hal ini sudah merupakan resiko manusia hidup dalam berumah tangga. Karena anak merupakan amanat Tuhan yang harus dipelihara sebaik-baiknya. Kedua, jika orang tua punya waktu, perhatikanlah waktu itu dengan serius. Inilah waktu untuk saling memahami, untuk mendukung perilaku kecil di mana orang tua menyetujui dari tingkah laku anak-anaknya. Jauh lebih baik lagi bila orang tua memberikan dukungan segera setelah hal-hal kecil itu terjadi. Suatu tingkah laku ataupun prestasi yang diikuti oleh suatu hadiah yang kecil tetapi langsung jauh lebih baik dari pada sebuah hukuman yang besar tetapi terlambat diberikan.

Sumber :
Hasan, Maimunah. 2001. Membangun Kreativitas Anak Secara Islami. Yogyakarta : Bintang cemerlang.

Jumat, 06 Februari 2009

AL-KHUYANDI : Teori Matematikanya "Mengilhami" Teorema Fermat yang Mengguncang Dunia

Bulan juni 1993, media-media cetak dan elektronika sempat gonjang-ganjing. Dunia ilmu pengetahuan gempar berat. Dan kegemparan itu berpangkal pada Prof. Dr. Andrew Wiles seorang matematikawan muda (40 tahun) yang ahli teori bilangan dari Universitas Priceton AS yang dinilai sukses besar dalam membuktikan dan memecahkan teka-teki teori terakhir Fermat yang telah berusia 356 tahun - setelah menyuntuki selama kurang lebih 5 tahun.

Dalam wujud kalimat, teorema atau dalim itu berbunyi : "jika x, y, dan z masing-masing merupakan bilangan bulat positif, maka x berpangkat n ditambah y berpangkat n mustahil akan menghasilkan z berpangkat n, keculai bila n berupa bilangan bulat dan maksimal sama dengan dua". (yang dimaksud bilangan bulat positif adalah 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya. Jadi bukan pecahan seperti 0,2 atau 0,3 atau 1/2, 1/4 dan semacamnya).

Sedang dalam bentuk persamaan dapat ditulis :
, untuk n > 2


Tapi, jika n = 2 maka akan sama persis dengan persamaan dari teorema Phytagoras yang sudah jamak bagi siswa sekolah menengah atau santri madrasah.
"Teka-teki" teori Fermat baru muncul jika n > 2
misalkan n = 3 maka 4^3 + 3^3 tak sama dengan 5^3 sebab 64 + 27 = 91 sedangkan 5^3 itu sendiri adalah 125. Dengan kata lain 91 bukanlah 5^3.
Jadi teori tersebut sangatlah benar. Yang payah ialah membuktikan kebenarannya itu. Cobalah umpamanya mencari bilangan z yang bulat untuk persamaan-persamaan dengan n > 2 berikut :
2^3 + 3^3 = z^3, maka z = ?
1^4 + 2^4 = z^4, maka z = ?
puyeng, saking sulitnya !

Teka-teki besar yang berusia 3 abad lebih inilah yang kabarnya telah mampu dibuktikan oleh Prof. Dr. Wiles pada tahun 1993 lalu, dan sebelumnya oleh pendekar matematika negeri Nippon, Yutaka Taniyama pada 1954 - walau secara tidak langsung.

Lantas apa kaitannya dengan Al-Khuyandi yang hidup sekitar 700 tahun sebelum lahirnya Pierre De Fermat, pencetus teori tersebut ?.

Ilmuwan legendaris Al-Biruni dalam "Tahdid Nihayat Al Amakin" dalam RIMA viii (1962) mengakui dan menyanjung-nyanjung Khuyandi sebagai cendekiawan yang "Awhad Zamanihi" (tiada tandingan dan tiada bandingan di masanya) terutama di bidang konstruksi aneka rupa peralatan astrolabe dan peralatan astronomis lain. Sejumlah manuskrip yang telah diabadikan dari risalahnya "Fi'amal al-Ala al-Amma" mendeskripsikan suatu instrumen universal yang disebut "al-Ala al-Amma" atau "al-Shamila". Ini biasanya digunakan sebagai pengganti asrolabe atau quadrant-alat berbentuk seperempat lingkaran. Astronom dan matematikawan spesialis geometri ini pintar pula merencang bangun sebuah sfera perlengkapan militer dan perlengkapan lain. Untuk merekayasa semua instrumen tersebut tentunya Al-Khuyandi telah habis-habisan berkubang dalam berbagai masalah teoritis bidang-bidang terkait, termasuklah umpamanya yang menyangkut tata letak rancangan sebuah astrolabe.

Dari eksperimen-eksperimen itulah Khuyandi berhasil pula menemukan setidak-tidaknya 2 metode seperti yang digunakan Abu Nasr Mansur, untuk menentukan posisi dan lingkaran-lingkaran dari azimut pada astolabe melalui titik potong atau persimpangan antara khatulistiwa (equator) dan mukantarat (risala fi mujazat dawa'ir al-Sumut fi'l Asturlab' dalam "rasa'il ila al-Biruni", Hyderabad 1948).

Karya terpenting Khuyandi dalam sfera instrumen-instrumen astronomis adalah sekstan yang disebut "al-Suda al-Fakhri" (dipersembahkan khusus kepada Fakhr al-Dawla) yang dirancang untuk menentukan kemiringan ekliptik. Peralatan tersebut dan bermacam observasi yang dilakukan dengan memakai instrumen itu dilukiskannya dalam buku "risala fi'il mayl wa 'ard al-balad" (editor L.Cheikho, dalam "Machriq", 1908).

Al-Biruni sendiri memberikan analisis terinci tentang ini dalam kitabnya "tahdid" yang dianggap dilandaskan pada "makalah fi tashih al-mayl" karangan Khuyandi (mungkin diidentikkan dengan "risala fi'l mayl" yang dikutip di atas).

Sekstan tersebut memiliki diameter 40 dhira' atau cubit (1 cubit kira-kira sama dengan 18-22 inchi), sedang sekstannya al-Biruni beridiameter 80 cubit. Dibuatnya di Tabruk dekat Rayy serta diselaraskan dengan perencanaan untuk menentukan meridian (garis bujur); dikelilingi dengan dinding-dinding dan bagian atasnya dilingkupi semacam atap dan dibagian tertentu terdapat semacam kubah atau kolong dengan sebuah celah bergaris tengah 3 shibr (= jengkal) berada persis di pusat sekstan. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur cahaya matahari, melalui proses pemantulan cahaya matahari yang kemudian terlempar masuk ke dalam bolongan bulat pada sekstan tersebut. Dan untuk menentukan pusatnya, Khuyandi menggunakan sebuah lingkaran yang berjari-jari sama dengan 2 diameter yang tegak lurus dan ditempatkan dilingkaran tersebug sehingga dapat diterpa cahaya.

Intelektual yang gegap gempita dengan prestasi besar ini menekankan dan mengklaim bahwa sekstan merupakan hasil temuannya dan dengan itu, katanya, "Aku dapat membuat perhitungan-perhitungan hingga ke atom-atom terkecilnya". Instrumen serupa tampaknya telah digunakan pula dalam observatori-observatori di Maragha (didirikan sebelum tahun 660/1261 - 1262) dan di Samarkand (ditegakkan pada 823/1420).

Dengan "Suds al-Fakhri" ini, Khuyandi mengamati ketinggian meridian dititik balik matahari (soltice) musim kemarau dan dititik balik matahari musim dingin tahun 384/994. Prosedurnya meliputi kegiatan observasi-observasi selama 2 hari berturut-turut pada saat titik balik matahari dan dalam pemetaan, momentum yang tepat lewat matahari masuk ke titik baliknya. Semua ini dapat dilaksanakan sekitar bulan juni, namun observasi ulangan dengan prosedur sama, yang dilakukan di bulan desember mengalami hambatan oleh awan sehingga ketepatan dan keseksamaan seluruh observasi turut berpengaruh. Observasi-observasi tersebut dilakukan di bawah bimbingan dan pengawasan sekelompok intelektual peneliti senior, termasuk dalam hal penggarapan laporan-laporannya. Hasil nya adalah sigma = 23 derajat 32 menit 19 detik (sedang versi al-Biruni dalam "al-Kanun Al Mas'udi", Hyderabad 1954, adalah sigma = 23 derajat 32 menit 21 detik, terpaut 2 detik). Hasil tersebut jika diperbandingkan dengan pengamatan astronom-astronom india (24 derajat) dan Ptolemy (23 derajat 51 menit) akan semakin mengokohkan justifikasi pada keyakinan Khuyandi dalam masalah reduksi progresif pada kemiringan ekliptika. Al-Biruni sendiri percaya bahwa harga sigma itu konstan (dalam "Tahdid" dan "Kanun") menegaskan bahwa Khuyandi mengatakan kepadanya bahwa celah kolong yang dimasuki berkas cahaya matahari itu telah dipindahkan ke sebelah bawah sekitar sejengkal sebelum dilaksanakan observasi-observasi mengenai titik balik matahari musim dingin. Sehingga dengan demikian ia tidaklah tepat benar dengan pusat sekstan. Fakta ini dapat menjelaskan tentang berkurangnya harga sigma pada penentuan-penentuan lain yang dilakukan secara kasar di waktu-waktu yang sama.

Selain itu, Khuyandi melancarkan pula serentetan observasi ilmiah lain semisal menentukan garis lintang kota Rayy pada 35 derajat 34 menit 39 detik, disamping menegaskan bahwa ia juga telah mengobservasi planet-planet untuk (dipersembahkan hasilnya kepada) Fakhr al-Dawla dengan menggunakan sfera-sfera untuk keperluan kemiliteran dan peralatan astronomi lain.

Hasil akhir dari penelitian tersebut dikompilasi dalam sebuah buku bertajuk "al-Zij al-Fakhri". Selain itu, sebuah salinan dari sebuah "Zij" berbahasa Persia, diabadikan dalam Majlis Library di Teheran Iran, diduga didasarkan pada observasi-observasi ilmiah al-Khuyandi. Periode yang tercantum pada tabel-tabel pergerakan-pergerakan rerata itu adalah 600 tahun dari era Yazdagirdi, atau seputar 2 abad setelah kemangkatan al-Khuyandi (lihat E.S. Kennedy, "A Surve 0f Islamic Astronomical Tables", sebuah survey perihal tabel-tabel astronomi islam, 1956).

Nama resmi ilmuwan asal Khuyand Transoxania ini adalah Abu Mahmud Hamid bin al-Khidr al-Khuyandi. ia hidup di masa pemerintahan Buwayhid Fakhr al-Dawla (366-387/976 - 997) dan wafat ditahun 390/1000 dengan mewariskan sejumlah karya ilmiah dibidang astronomi dan matematika, khususnya geometri.

Di antara begitu banyak karya matematikanya, yang pada umunya telah menguap entah ke mana, sebagian masih bisa dijumpai di Kairo yaitu dalam wujud manuskrip dari sebuah risala tentang geometri. Dan perhatian utamanya difokuskan khusus pada resolusi atau penguraian persamaan-persamaan berpangkat 3 dengan metode-metode geometri. Dari kekhusyuan mengkaji dan ketekunannya menelaah ia berhasil menciptakan satu rumusan atau dalil atau teorema yang berbunyi bahwa "jumlah dua bilangan berpangkat 3 tak akan membuahkan bilangan berpangkat 3 lainnya" (The sum of two cubed numbers cannot be another cube).

Kendati bunyi kalimat kedua teorema tersebut (versi Fermat dan versi Khuyandi) tampak berbeda namun jika dicermati baik-baik, apalagi kalau disertai dengan elaborasi intelektual yang memadai maka akan terasa adanya nuansa kemiripan. Atau mungkin, dengan kalimat yang bijaksana dapat dikatakan bahwa teori Fermat tersebut bukanlah gagasan murni Pierre De Fermat melainkan merupakan pengembangan berantai dari ide atau teorem al-Khuyandi yang telah berumur kurang lebih 1000 tahun itu. Atau paling tidak, Khuyandi memiliki saham utama bagi munculnya teka-teki teori Fermat. Perlu pula diingatkan bahwa dalil tersebut ditulis Fermat hanya dalam bentuk catatan-catatan lepas di tepi halaman bukunya. Lalu menyebutkan bahwa ia telah menemukan bukti-buktinya - namun tidak dituliskannya, dengan alasan kekurangan tempat di halaman buku tersbut.

Di samping teori itu, Khuyandi pun terbilang penemu "Kaidah Sinus" yang diistilakannya sebagai "Kaidah Astronomis".

Nasir al-Din al-Tusi dalam "kitan Shakl al-Katta", Istambul 1891 menegaskan bahwa Abu'l Wafa' al-Buzajani, Abu Nasr Mansur bin Ali bin Irak dan al-Khuyandi merupakan 3 serangkai penulis yang memiliki peran dan jasa besar dalam penemuan "Kaidah Sinus", (atau "Kaidah Astronomis" (Kanun al-Hay'a menurut istilah Khuyandi, lantaran kerapnya digunakan dalam astronomi)). Meskipun demikian, P.Luckey dalam salah satu bukunya, pada prinsipnya menolak pera al-Khuyandi dengan alasan bahwa ia adalah "intelektual lapangan". Kendati karyanya merupakan karya-karya unggulan yang menghentak emosi namun dia lebih sibuk bergerak di ladang astronomis praktis.

Sumber :
Arsyad, Natsir. 2000. Cendekiawan Muslim dari Khalili sampai Habibie. Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Kamis, 03 April 2008

Ilmu Metafisik

Ilmu Metafisik mengkaji tentang rahasia-rahasia di belakang kehidupan dan keanehan-keanehan yang manusia saksikan seperti merasakan apa yang akan terjadi, mimpi, atau membaca pikiran.

Keberadaan Ruh
Allah SWT telah menjelaskan kisah penciptaan manusia berupa fisik dan ruh dalam beberapa ayat yang merangkum berbagai ilmu pengetahuan, yang hingga kini masih menjadi topik pembahasan di kalangan perguruan-perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian. Kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan oleh berbagai pengetahuan dianggap sebagai pertolongan bagi ilmuwan dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Anehnya, setiap kesimpulan yang diambil, telah terdapat dalam Alquran sejak seribu tahunlebih yang lalu, secara terperinci dan tanpa ada kekacauan atau kesamaran.
Ayat-ayat yang menyinggung tentang penciptaan manusia dan keberadaan ruh didalamnya terdapat lebih dari satu surat. Allah SWT berfirman dalam surat Shad, "(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. 'Maka apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur denga bersujud kepadaNya." (QS. Shad : 71-72).
Allah berfirman dalam surat Al-Isra', "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra' : 85).
Walaupun ilmu pengetahuan telah berkembang dengan pesat, namun persoalan ruh sampai hari ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi para ilmuwan. Bagaimanapun juga, dasar pijakan ilmu pengetahuan ini tidak dapat lepas dari yang telah ditetapkan oleh Alquran tentang keberadaan ruh manusia.

Kekekalan Ruh
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Fajr, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr : 27-30)
Setelah mati, jiwa atau ruh akan kembali kepada Tuhannya. Bila ruh itu tenang, maka dia akan kembali dengan hati yang puas lagi diridhai Tuhan. Kepuasan yang dirasakannya menandakan perasaannya, yakni kekekalan-nya setelah mati. Allah berfirman dalam surat Ali 'Imran, "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. ALi 'Imran : 169-170).
Tidak diragukan, ayat tersebut menjelaskan bahwa ruh orang mati di jalan Allah itu hidup di sisi Tuhannya. Mereka gembira disebabkan rizki dan karunia Allah.

Sumber :

Naufal, Abdul Razzaq. 2005. ALLAH CIPTAKAN Rumah Terindah DI BUMI. Jakarta : REPUBLIKA.

Hadits : P e R n I k A h A n

1. An Abii Hurayrata 'Anin Nabiyyi shalallahu 'alayhi wasallama qaala : Tunkahul mar-atu li-arba 'in hijamaalihaa wa lihasabihaa wa-jamaalihaa walidiinihaa fazhfar bidzaatid diini taribat yadaaka.

Artinya :
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw, bersabda : Dikawini perempuan karena 4 perkara : karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah karena agamanya maka akan selamatlah engkau.

2. 'An Abu Hurayrata 'an Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallama qaala : Man kaana yu'minu billaahi walyawmil aakhiri falaa yu'dzi jaarahu. Wastashuu binnisaa-i khayran fainnahuma khuliqna min dhila'in wainnaa a'waja syay-in fidhdhila'i a'laahu, fain dzahabta tuqiimuhu kasartahu wain taraktahu lam yazal a'waja fastawshuu bin-nisaai khayran.

Artinya :
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw, bersabda : Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan berwasiatlah pada wanita dengan baik-baik, karena mereka dicipta dari tulang rusuk, dan sesungguhnya yang paling bengkok pada tulang rusuk itu ialah yang sebelah atas, maka jika engkau akan meluruskannya berarti mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya maka hal itu akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah pada wanita itu dengan baik-baik.

Sumber :
Bahreisy, Hussein. 1999. Himpunan Hadits Pilihan : HADITS SHAHIH BUKHARI. Surabaya : AL IKHLAS.

Selasa, 01 April 2008

Cendekiawan Muslim : Abdul Rahman As-Sufi

Ahli Ilmu Perbintangan, Penulis Buku Astronomi Berilustrasi Paling Tua

Pada masanya ia dikenal sebagai astronom cemerlang yang bekerja dibawah pemerintahan Adud Al-Dawla. Karena prestasinya di lapangan pengetahuan perbintangan (konstelasi) maka termasuklah ia salah satu cendekiawan kebanggaan sang maharaja di antara "tiga bintang". Dua lainnya adalah ahli tata bahasa Al-Farisi dan pakar tentang tabel-tabel astronomi ibnu al-Alam.

Karya "masterpiece"nya yang paling terkenal adalah sebuah deskripsi perihal bintang-bintang yang posisinya sudah tertentu (fixed star) bertajuk "Kitab Suwar al Kawakib al Thabita". Kitab ini ditulis sekitar tahun 355/965, atau antara tahun 903 dan 986, dan didedikasikan kepada Buyid Emir Adud al-Dawla. Dan merupakan manuskrip berilustrasi paling tua yang masih lestari dimana didalamnya banyak dikupas soal temuan-temuan Hipparchus dan Ptolemaios. Buku ilmiah tersebut memuat kontelasi-konstelasi baik menurut sistem para astronom sepeninggal Ptolemaios maupun menurut tradisi anwa' (naw') bangsa Arab. Ia dilengkapi pula dengan ilustrasi-ilustrasi dan gambar-gambar menarik. Menurut penulisnya ilustrasi-ilustrasi tersebut diabadikan oleh astronom besar al-Biruni yang mengacu pada suatu bola (peta) bumi angkasa.

Seperti dikemukakan dalam kata pengantarnya, ia juga merujuk sebuah karya ilustrasi tentang konstelasi-konstelasi yang disusun oleh Utarid bin Muhammad. Sementara itu sumber lain (Islam and Muslim Art) menyebutkan bahwa kitab astronomi ini merupakan terjemahan dan adaptasi dari sejumlah naskah-naskah ilmiah Yunani semisal "Almagest" dari Ptolemaios, "Farnese Atlas", dan "Phenomena"-nya Aratus. Dan sebagaimana karya-karya astronomis Yunani yang penuh dengan simbolisme astronomis, dibuku ini konstelasi-konstelasi disajikan pula dalam bentuk penampilan figur atau tokoh-tokoh terkemuka yang ditotol dengan titik-titik merah untuk menandai bintang-bintang.

Hanya saja tipe figur-figur manusia dan hewan-hewan disini disesuaikan dengan konteks geografi Arab-Cina dengan cara memberinya sentuhan-sentuhan warna lokal---sama seperti yang diperbuat oleh COrneille dan Racine takala keduanya mencangkokkan tokoh-tokoh klasik yang menjadi "abdi dalem" kontemporer di Versailles. Perlambangan astronomis seperti itu, yang sudah lazim sejak dulu-dulu, akan menerangkan makna aneka rupa pose yang ditampilkan, tatapan-tatapan mata yang berat atau pandangan-pandangan ke dalam, gerak-gerak simbolik semisal menuangkan minuman membawa makna, sama seperti simbol air kehidupan : obat segala jenis penyakit.

Manuskrip awalnya yang masih bisa ditemui di perpustakaan Bodleian disalin, diilustrasi dan dikaligrafi oleh putra as-Sufi sendiri tahun 400/1009-1010. Sesungguhnya masih banyak naskahnya yang lain yang diilustrasi dalam gaya-gaya dan judul yang berbeda-beda sesuai perkembangan zaman ("Metropolitan Museum Studies", J.Upton, 1933; Die Islamis-chen Miniarturhandschripten vor 1350 K.Holter Ars Islamica, 1940, dan lain-lain).

Teks dan terjemahan kata pengantarnya pernah diterbitkan oleh Caussin de Perceval, dibawah judul "Notices at Extraits" juga oleh H.C.F.C. Schjellerup dengan titel "Description des estoiles fixes par Abd al-Rahman as-Sufi", St. Petersburg 1874. Sedang teksnya dalam bahasa Arab diterbitkan, terutama setelah manuskrip Parisnya (yang disalin dari Ulugh Beg) di Hyderabad 1953, yang disunting oleh M. Nizamuddin.

Karya-karya lainnya yang masih ada, antara lain berupa sebuah buku pegangan (Handbook) tentang astronomi dan astrologi, dan sebuah risalah mengenai penggunaan astrolabe. Sebuah peta bumi terbuat dari perak buatan Rahman as-Sufi yang dipersembahkan kepada sang raja Adud Dawla juga telah dimuseumkan dalam perpustakaan istana Dinasti Fatima di Kairo, Mesir.

Untuk sebuah Urdjuza tentang bintang-bintang yang posisinya tertentu, dihubungkan kepada salah seorang putranya; dan diterbitkan di bagian akhir dari "Suwar al Kawakib al Thabita" edisi Hyderabad.

As-Sufi bernama lengkap Abdul Rahman bin Umar al-Sufi Abul Husayn. Lahir di Rayy Persia 14 Muharram 291 atau 5 Desember 903, dan wafat pada 13 Muharram 376 bertepatan dengan 25 Mei 986.

Sumber :
Arsyad, Natsir. 2000. CENDEKIAWAN MUSLIM dari Khalili sampai Habibie. Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Sabtu, 15 Maret 2008

Orasi Terakhir Nabi Muhammad SAW

Hanya lima hari sebelum wafat, yakni pada saat sakit yang terakhir, dimana ketika itu kepala Rasulullah dibalut dan pundak beliau berselendang kain, sambil bersandar pada pundak Ali bin Abi Thalib dan Fadhl Rasulullah SAW. Keluar dari kamar Aisyah menuju masjid. Beliau duduk pada tangga pertama mimbar, kemudian meyampaikan pesan terakhir pada hari kamis, tanggal 8 Rabi'ul Awwal tahun 11 Hijriah (berdasarkan buku Sirah al-Nabi, karya Syibli Nu'mani).

Rasul SAW memuji Allah dan menyanjung-Nya. Beliau memohonkan ampunan bagi pada syuhada perang Uhud dan mendoakan mereka. Setelah itu beliau bersabda :

"Wahai manusia, mendekatlah kepadaku." Kemudian mereka mendekat kepada beliau. Setelah itu beliau bersabda lagi : "Amma ba'du. Sesungguhnya ada seseorang yang telah diberi pilihan oleh Tuhannya antara terus hidup di dunia ini sesukanya dan bisa memakan dari dunia sesukanya, atau berjumpa dengan Tuhannya...

Mendengar perkataan beliau tersebut, Abu Bakar menangis dan berkata, "Kami siap menjadi tebusanmu, dengan ayah-ayah kami, ibu-ibu kami, dan harta-harta kami..."

Rasulullah SAW meneruskan pembicaraan, "Tidak ada orang yang lebih melimpah persahabatan dan hartanya kepada kita daripada anak Abu Quhafah (Abu Bakar). Seandainya aku boleh menjadikan seorang teman dekat (khalil) selain Tuhanku, niscaya aku akan menjadikan anak Abu Quhafah sebagai teman dekatku. Namun (meskipun tidak bisa melakukan hal demikian), ada cinta dan persaudaraan iman (Beliau menyatakan ini dua atau tiga kali). Sahabat kalian adalah teman dekat Allah. Di manjid ini tidak ada satu pun pintu yang tersisa kecuali pintu Abu Bakar.

"Wahai manusia, telah sampai kepadaku berota bahwa kalian mencemaskan kematian Nabi kalian. Apakah ada nabi sebelumku yang kekal bersama kaum yang kepada mereka ia diutus ? (Seandainya ada) maka aku juga bisa tetap bersama kalian. Camkanlah, sesungguhnya akau akan menjumpai Tuhanku. Kalian juga aka menumpai-Nya. Oleh karena itu, aku berwasiat kepada kalian untuk melakukan yang terbaik kepada kaum Muhajirin, dan kau berwasiat kepada kaum Muhajirin untuk melakukan yang terbaik di antara mereka sendiri. Allah SWT berfirman, "Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian...dst. (QS. Al-Ashr, 103)." Segala sesuatu berjalan sesuai dengan izin Allah SWT. Kalian tidak dapat meperlambat sesuatu yang seharusnya terjadi dengan segera. Dan Allah SWT tidak menyegerakan sesuatu karena keinginan seseorang. Barang siapa mlawan Allah, maka Allah akan melawannya. Barang siapa menipu Allah, maka Allah akan menipunya. Kelak pada masa mendatang yang tidak lama lagi, jika kalian memerintah, janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi dan janganlah kalian memutuskan kasih sayang".

"aku berwasiat kepada kalian untuk melakukan yang terbaik terhadap kaum Anshar. Sebab merekalah yang telah menyiapkan negeri dan keimanan untuk kalian. Oleh sebab itu, berbuat baiklah kepada mereka. Bukankah mereka telah membagikan buah-buahan mereka kepada kalian ?. Bukankah mereka telah memperluas rumah-rumah mereka untuk kalian ?. Bukankah mereka telah mengutamakan kalian daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri sebenarnya hidup dalam kesusahan ?".

"Ketahuilah, jumlah manusia akan semakin banyak. Sementara jumlah Anshar semakin sedikit. Sehingga posisi mereka di tengah manusia seperti posisi garam bagi masakan. Mereka adalah keluargaku yang kepada mereka aku berlindung; mereka adalah sandalku; mereka adalah bejana makananku yang darinya aku mengambil makanan. Oleh karena itu, jagalah aku ditengah-tengah mereka".

"Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh aku mencintai kalian. Sesungguhnya kaum Anshar telah memenuhi apa yang telah menjadi kewajiban mereka. Dan sekarang yang masih tersisa adalah apa yang menjadi kewajiban kalian".

"Kelak, barang siapa diantara kalian memegang kekuasaan, sehingga ia bisa melakukan tindakan yang membahayakan suatu kelompok dan memberikan manfaat kepada kelompok yang lainnya, maka hendaknya ia melihat kebaikan orang-orang dan melupakan kesalahan mereka. Camkanlah, janganlah kalian memikirkan diri kalian sendiri dan melupakan mereka. Sungguh aku akan mendahului kalian. Aku akan menjadi saksi kalian. Dan kelak kalian akan bertemu denganku. Ketahuilah, janji untuk kalian adalah Haud (Telaga di surga). Demi Allah, sekarang juga sungguh aku dapat melihat Telagaku dari posisi berdiriku saat ini. Perhatikanlah, barang siapa ingin mendatangi Telaga itu bersamaku esok, maka hendaknya ia menahan tangan dan lidahnya kecuali dalam hal yang mengharuskan untuk tidak menahan keduanya."

Sumber :
Akbar, Muhammad Ubaidul. 2006. Orasi-Orasi Muhammad Sang Rasul. Bandung : OASE Mata Air MAkna.

Pidato Abu Bakar, Khalifah Pertama

Saat dipilih sebagai khalifah, dia naik ke atas mimbar lalu menatap orang-orang didepannya seraya berkata :

"Wahai manusia, sungguh aku telah diamanati untuk mengurus kalian, padaha; aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Namun, Al-Quran telah diturunkan, dan Rasul SAW telah mengajarkan Sunnah, dan kita telah mempelajarinya. Ketahuilah, sesungguhnya kebajikan yang paling baik adalah takwa; sedangkan kebodohan yang paling bodoh adalah berbuat dosa. Sesungguhnya, bagiku, orang yang paling kuat di antara kalian adalah justru orang yang paling lemah hingga aku mengambil darinya hak untuknya, sedangkan orang yang paling lemah di antara kalian adalah justru orang yang paling kuat hingga aku mengambil hak dari orang kuat itu. Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah pengikut, bukan pembuat ajaran baru. Oleh sebab itu, jika aku berbuat benar, maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat salah, maka koreksilah aku."

Sumber :
Akbar, Muhammad Ubaidul. 2006. Orasi-Orasi Muhammad Sang Rasul. Bandung : OASE Mata Air Makna.