Selasa, 05 April 2011

Mengapa mengalikan dua angka negatif menjadi positif?

Penjelasan umum :

Jika saya berkata "Makan", saya mempersilahkan anda untuk makan (positif), tetapi jika saya berkata "Jangan Makan", saya mengatakan kebalikannya (negatif).

Maka, jika saya berkata "Jangan Jangan Makan" , artinya saya berkata "Makan".

Penjelasan khusus :

Ingat kembali Garis Bilangan !!!



 


Sumber : http://www.mathsisfun.com/multiplying-negatives.html


Senin, 04 April 2011

what is wolframalpha?

Wolfram|Alpha introduces a fundamentally new way to get knowledge and answers—

not by searching the web, but by doing dynamic computations based on a vast collection of built-in data, algorithms, and methods.

Wolfram|Alpha's long-term goal is to make all systematic knowledge immediately computable and accessible to everyone.

Source : http://www.wolframalpha.com

Kamis, 10 Maret 2011

Cara MemBuka Situs Yang Di Blokir

Anda masuk ke GOOGLE (Mesin Search Engine terbesar) dulu, kemudian anda ketikkan “anonymous proxy“, trus search. Nanti akan tampak banyak situs yang ditampilkan dari hasil pencarian. Dan disarankan, anda memilih dari layanan “YOUHIDE.COM” , karena layanan dari youhide.com lebih cepat.

Setelah kamu sudah masuk di www.youhide.com ketikan “http://youtube.com” kemudian pilih pada pilihan “SUBMIT” nanti kamu akan otomatis masuk ke layanan youtube denagn menggunakan Proxy dari Mereka.










Sumber : http://www.d60pc.info/cara-membuka-situs-yang-di-blokir/352

Minggu, 30 Januari 2011

MyTembangPisaan230111-Pantun Komering

Adok tininggal akas

Asal buai pumuka

Sijasa guai lebas

Adok Diwa Negara

 

Diwa Negara sakti

Ganta kok bumirua

Ya kasih rik bujadi

Yaja pununggunua

 

Adok Ratu Berdiri

Tutukan dilomnua

Ya patuh rik bujadi

Mak wat nganggap mentuha

 

Asal jak Lubuk Linggau

Ganta kok wat pundamping

Satuah ngusung helau

Pundamping jak Kemering

************************************************************************

Sakasih papa mama

Tungguk sijangka jaman

Dang lupa rik Ibu Bapa

Niku sai haga ngandan

 

Koh-koh dikuti rua

Nak bai jama muhani

Amon sikam kok tuha

Serah sirin dikuti

 

Sa koh-koh akas Diwa

Dikunyin-kunyin kuti

Hurik dilom dunia

Mak wat kekal abadi

Najin tetel sarjana

Mak wat haga nyukupi

Sembahyang dang haga lupa

Ibot ram duda tini

 

Sija koh-koh jak umbai

Dang lupa jama iman

Tamong nyemberang sungai

Dang mak sanga apungan

 

Tamong niku kok nikah

Akas mak wat nengani

Tapi nyak mejong diluah

Mak wat diliak kuti

 

Alamku kok burubah

Akas kok mena mati

Salah akas sanayah

Tulung doa kon kuti

 

Dang lupa luah-luah

Amon kok radu gawi

Amon niku kok kiwah

Akuk kon akas haji

 

Amon malam jum’at

Malaikat ku mulang

Kunyin kuti mak nyambat

Nyak muloh sua miwang

 

Sija haropan hamba

Wat salah kimaapan

Amon radu budoa

Kunyin yudang mak mengan

Minggu, 12 Desember 2010

Mengapa Kita Membaca AlQuran Meskipun Tidak Mengerti Satupun Artinya?

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.

Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.

Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”

Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.

sumber : http://kask.us/5471573

Kamis, 09 Desember 2010

Plato Bertanya Apa itu cinta & pernikahan?

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya,

"Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana.
Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)."
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.
Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya."

Gurunya kemudian menjawab "Jadi ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu pernikahan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan saja.
Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja.
Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon.
Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi.
Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini.
Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya."

Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah pernikahan."

sumber : http://kask.us/6216541

Jumat, 19 November 2010

Teaching as Art

Knowing what an effective teacher does will not reveal how a person becomes an effective teacher. How does someone come to organize and manage a class or transform content into curriculum? Eisener (1982) suggested that every successful teaching encounter could be analyzed both in terms of the science of the instructional planning and delivery and the art of creating a conducive environment in which learning occurs.

Artistry
Rubin (1985) observed that teaching is an art, in that it involves processes and procedures that are so complex that it is impossible to reduce them to systematic investigation of formulation. Flinders (1989), in an analysis of teaching behaviors, suggest that a number of the types of behaviors enacted reflect the true artistry of teaching, such as employing communication that goes beyond speaking and writing. Teachers communicate through body language, the use of space, voice intonation, and eye contact-all ways of making a subtle impact on the child and conveying a message of caring for students (Flinders, 1989). Furthermore, teachers demonstrate a sensitivity to students' needs and a capacity to adapt to the emotional context of classroom. For example, research (e.g., Pintrich & Schunk, 1996) suggests that students should learn to set personal goals that are moderately difficult. However, this same "science" fails to direct the teacher on how to approach the process or even how to know what is moderately difficult. The teacher as artist is able to apply that research sensitively and critically with an eye to the unique and diverse needs and abilities of each student. Finally, the teacher, as artist, often employs humor, individual contact, and opportunities for recognition and empowerment of students as means of building cooperation.
This artistry is dramatically presented every day in classrooms. The effective teacher has the knack of simply knowing when to close the space between himself and a resistant student as a method of management. This teacher knows how to change the tone and inflection of his voice to gain the attention of the class. Also, he certainly will demonstrate sensitivity and awarness of his students and their emotional needs, often making adjusments to class routines and requirements in response to these needs. this effective classroom teacher is certainly an artist. His skillful humor, individual contact, and recognition, and ongoing empowerment fit the difinition higlighted by Flinders (1989).

Source : Seng, Tan Oon., Parsons, Richard D., Hinson, Stephanie Lewis., and Sardo-Brown, Deborah. 2001. Educational Psychology. Singapore. Seng Lee Press.