Rabu, 04 Desember 2013

Teori Gestalt

Dasar pokok aliran psikologi ini pertama kalinya dirumuskan Max Wertheimer pada tahun 1912 yang berbunyi "keseluruhan lebih dari jumlah bagian-bagiannya". Kellebihan itu terjadi karena manusia cenderung melihat suatu pola, organisasi, integrasi atau konfigurasi dalam apa yang dilihatnya. Konfigurasi yang membentuk kebulatan keseluruhan itu disebut dalam bahasa Jerman Gestalt, suatu istilah yang sukar diterjemahkan dan karena itu dipertahankan dalam semua bahasa. Demikianlah lahir teori Gestalt, juga disebut teori organismik, dan teori psikologi lapangan (field psychology).

Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka dalam buku "The Mentality of Apes" (1925) dalam eksperimen menguji hipotesis Thordike tentang "Trial-and-error", yaitu bahwa dalam memecahkan suatu masalah, individu atau binatang akan melakukan perbuatan-perbuatan secara acakan dan kahirnya secara kebetulan akan dapat memecahkannya. Dalam percobaan dengan simpanse ternyata, bahwa binatang itu memecahkan masalah secara tiba-tiba, karena menurut Kohler, ia mendapat "insight", pemecahan dalam hubungan unsur-unsur situasi itu.

Salah satu anggapan psikologi behaviorisma yang paling merusak ialah bahwa dalam belajar, individu itu pasif, ia menerima stimulus dan memberi respons secara sereotip dan otomatis. Stimulus dianggap sebab dan respons dianggap sebagai akibat. Manusia seperti mesin yang sangat baik desainnya yang dapat dikendalikan. Siswa dapat dikendalikan oleh guru dengan bahan yang dipilih pengembang kurikulum. Manusia dapat dikondisi menurut kemauan penguasa atau masyarakat.

Kunci dalam psikologi Gestalt, ialah "insight". Belajar ialah mengembangkan insight pada anak dengan melihat hubungan antara unsur-unsur situasi problematis dan dengan demikian melihat makna baru dalam situasi itu. Belajar bukan sesuatu yang pasif, dalam belajar siswa mempunyai tujuan, mengadakan eksplorasi, menggunakan imajinasi dan bersifat kreatif, jadi jauh berbeda dengan psikologi behavioristik yang memandang belajar sebagai mekanistik dan deterministik.

"Insight" ialah mula-mula adanya perasaan, "hunches" petunjuk yang samar-samat tentang adanya pola, hubungan antara unsur-unsur suatu masalah, pada suatu saat tiba-tiba menjadi terang. Bagaimana timbulnya "insight" tak selalu, dan sering dapat diverbalisasikan, dinyatakan dengan kata-kata, karena terjadinya dalam lompatan pikiran dan intuisi. Simpanse memperoleh "insight" dan tentu tak dapat membahasakannya. "Insight" adalah jawaban atau hipotesis sementara, yang mungkin benar atau tidak. Kebenarannya masih perlu diuji.

Guru tak dapat memberi "insight", walaupun dapat membantu, murid sendirilah yang harus menemukannya sendiri menurut pikirannya sendiri, menurut makna yang dilihatnya dalam situasi itu. "Insight" belum bearti memahami suatu masalah sepenuhnya, akan tetapi hingga batas tertentu. "Insight" juga belum dapat digeneralisasi. Untuk itu jumlahnya harus cukup banyak dengan pengalaman yang kaya. Generalisasi yang diperoleh sering dirumuskan dalam bentuk "Jika ... maka ...". Bila tercapai generalisasi maka dapat digunakan untuk atau ditransfer dalam situasi lain yang pada prinsipnya menunjukkan persamaan. Namun transfer tidak dengan sendirinya akan tetapi, walaupun prinsip itu telah dipahami sepenuhnya. Seorang sarjana dapat bersifat ilmiah dalam bidangnya, misalnya fisika, akan tetapi dalam bidang sosial tidak bertindak ilmiah, bahkan percaya akan mistik dan superstisi. Atau tidak mengenal situasi dalam hubungannya dengan prinsip itu, atau ia tak mau, atau tak sanggup menerapkannya, misalnya ia tahu harus berkorban untuk sesama manusia, namun ia lebih memperhatikan kepentingannya sendiri.

Transfer dapat terjadi bila terbuka kesempatan untuk menerapkannya dalam situasi yang dilihatnya sebagai kesempatan dan ada hasrat untuk menggunakannya.

Sumber :
Nasution, S. 2003. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta : Bumi Aksara.

Materi LPJ

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan (ide, informasi, keinginan, dsb) dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan media tertentu sehingga terciptalah kesatuan pemahaman pesan tersebut dan mempengaruhi sikap, perilaku, dan pikiran orang tersebut.
Efektif
Secara ekonomis, tujuan tercapai

Secara phisiologis, tidak menimbulkan bahaya fisik
Secara psikologis, adanya kepuasan
Secara sosiologis, tidak mengorbankan hubungan yang harmonis
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang menimbulkan pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.
Macam-macam Komunikasi Perkantoran
* Komunikasi vertikal (downward & upward)

* Komunikasi horizontal
* Komunikasi diagonal
* Komunikasi verbal
* Komunikasi internal
* Komunikasi eksternal
* Komunikasi non-verbal
Hambatan Komunikasi Perkantoran
* Hambatan sosiologis (perbedaan status, ideologi, agama, tingkat pendidikan, status ekonomi, dsb)

* Hambatan psikologis (sedang marah, sedang bingung, cemas, kecewa, sedih, dsb)
* Hambatan semantis (bahasa yang berbeda)
* Hambatan mekanis (tulisan yang tidak terbaca, sinyal yang hilang, gangguan pada pesawat telepon, dsb)
* Hambatan ekologis (bising, hujan deras, bunyi mesin, dsb)
Syarat-syarat Komunikasi Efektif
* Memiliki keterampilan berkomunikasi

* Memiliki kondisi psikologis yang stabil
* Memahami kondisi komunikan
* Mampu menggunakan media yang tepat
* Tidak bertentangan antara verbal dan non-verbal
Ciri-ciri Kelompok Efektif
1. Memiliki keberadaan untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak berkaitan.

2. Ada orang-orang yang ditunjuk oleh organisasi yang bersangkutan untuk menjalankan peran resmi tertentu, misalnya sebagai kepala bagian, kepala seksi, dan lain sebagainya.
3. Memiliki struktur, hubungan tugas dan hirarkis yang telah digariskan secara jelas.
Ciri-ciri Tim Efektif
* Merupakan kumpulan orang-orang yang bekerjasama dengan tujuan tertentu, demi mencapai sasaran yang jelas dengan diketahui oleh semua anggota tim dalam suasana saling mempercayai dan penuh percaya diri serta mengutamakan unjuk kerja.

* Anggota kelompok bersedia menerima perbedaan pendapat dan sumbangan pemikiran serta masing-masing individu memiliki peran yang berbeda-beda.
* Pemecahan masalah dilaksanakan secara positif tanpa melibatkan kebencian individu.
* Para anggota dan pemimpin tim bersedia berbagi ilmu pengetahuan, informasi dan keterampilan agar seluruh tim memiliki kemampuan yang sama.
* Perbedaan pendapat dalam pemecahan masalah diselesaikan dengan duduk bersama dengan kepala dingin dan secara terbuka.
* Pembagian dan pendelegasian tanggungjawab dengan orang-orang yang bekerja secara mandiri tetapi tetap dalam kerangkan kerjasama.
* Berbagai saran untuk perbaikan kinerja organisasi diterima dengan baik, walaupun berasal dari anggota tim yang lain.
* Seluruh anggota tim tidak ragu-ragu mengambil inisiatif dan tindakan yang diperlukan, tanpa merasa cemas akan suara yang menentang.
Pegawai Negeri adalah setiap warga negara RI yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Contoh Angket Motivasi Belajar Matematika

1. Saya senang belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
2. Saya memahami materi matematika dengan jelas (SS/S/KS/TS/STS)
3. Saya mengetahui tujuan belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
4. Saya mengerti kegunaan belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
5. Saya tidak malu bertanya, jika ada materi matematika yang kurang jelas (SS/S/KS/TS/STS)
6. Saya aktif  berdiskusi dengan teman saat belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
7. Saya berkosentrasi saat belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
8. Saya semangat belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
9. Saya tidak tenang belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
10. Penjelasan matematika yang disampaikan oleh guru membuat saya bingung (SS/S/KS/TS/STS)
11. Saya mendengarkan dengan sungguh-sunnguh penjelasan matematika yang disampaikan oleh guru (SS/S/KS/TS/STS)
12. Saya bosan belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)  
13. Saya mencatat setiap penjelasan matematika yang disampaikan oleh guru (SS/S/KS/TS/STS)
14. Saya memperhatikan dengan seksama setiap penjelasan matematika yang disampaikan oleh guru (SS/S/KS/TS/STS)
15. Saya tidak suka belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
16. Belajar  matematika penting bagi saya (SS/S/KS/TS/STS)
17. Saya merasa rugi jika ada materi matematika yang terlewatkan (SS/S/KS/TS/STS)
18. Saya berusaha dengan keras untuk mencari solusi dari permasalahan matematika (SS/S/KS/TS/STS)
19. Saya belajar matematika untuk mendapatkan ilmu dan nilai yang terbaik (SS/S/KS/TS/STS)
20. Saya tidak peduli dengan penjelasan matematika yang disampaikan guru (SS/S/KS/TS/STS)
21. Saya belajar matematika karena kurikulum sekolah mewajibkan (SS/S/KS/TS/STS)
22. Saya tidak perlu belajar matematika (SS/S/KS/TS/STS)
23. Saya datang tepat waktu, karena saya mau mempelajari matematika dari awal sampai akhir pertemuan  (SS/S/KS/TS/STS)
24. Jika guru memberikan pujian atas keberhasilan saya dalam menyelesaikan soal matematika, maka saya menjadi tambah bersemangat menyelesaikan soal yang lain (SS/S/KS/TS/STS)
25. Belajar mandiri membuat saya lebih mengerti matematika (SS/S/KS/TS/STS)

Keterangan:
SS = Sangat Setuju
S = Setuju
KS = Kurang Setuju
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju

Indikator Motivasi Intrinsik
Kebutuhan      : 16, 17, 21, 22, 23, 25
Ketertarikan    : 7, 11, 12, 13, 14, 15
Keingintahuan : 5, 6, 18, 20
Kesenangan     : 1, 8, 9
Indikator Motivasi Ekstrinsik
Kejelasan Tujuan Pembelajaran: 2, 3, 4, 10
Hadiah            : 19, 24

Referensi:
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Minggu, 16 Desember 2012

MODEL DISAIN KURIKULUM AKADEMIK SEBAGAI ALTERNATIF MENDISAIN KURIKULUM PENDIDIKAN MATEMATIKA


ABSTRACT Curriculum was an important component in learning process. Curriculum design of Mathematics Education should be based on structure of knowledge, so that the learning process of students had a meaning. This curriculum design was built by using model of academic curriculum design. The organization of curriculum also must considered the factor of scope, continuity, balance, and time allocation. So, by produce a good curriculum, then it would impact to the quality of graduate students positively.
            Key words: Curriculum, Academic curriculum design, Curriculum organization
Download: fullpaper

Rabu, 07 November 2012

Prinsip Pemilihan Materi Ajar

Pemilihan bahan ajar perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Relevansi
Relevansi bermakna bahwa materi yang disampaikan relevan dengan standard kompetensi dasar sebagai pengejawantahan kurikulum. Pada kompetensi dasar tersirat konsep yang harus diajarkan dan karakteristik konsepnya. Jika konsep merujuk pada jenis konsep tentu diperlukan strategi pengajaran spesifik sebaiknya siswa diberikan fakta-fakta konkrit kemudian sisiwa dapat membantu inferensi dari interaksi fakta-fakta yang dikemukakan oleh guru.
2. Konsistensi/Keajegan
Materi pelajaran harus memiliki keajegan hal ini dikaitkan dengan prinsip bahwa materi yang diajarkan sesuai dengan keluasan kompetensi dasarnya. Jika pada kompetensi dasar tercantum kalimat "Memahami struktur atom sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia" maka materi yang diajarkan harus meliputi struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.
3. Kecukupan
Prinsip kecukupan bearti bahwa materi yang diajarkan tidak boleh terlalu dalam ataupun terlalu sedikit. Materi ajar yang disampaikan harus cukup memadai untuk membantu siswa mencapai kompetensi dasarnya.

Langkah Pemilihan Materi Ajar
Kriteria pokok pemilihan materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar, sampailah pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi:
a. Identifikansi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar memiliki aspek yang berbeda baik materi ajar, maupun strategi pengajarannya. Jenis materi fakta tentu menghendaki referensi yang lengkap seperti ensiklopedi dan rumus-rumus secara akurat. Materi bersifat fakta pun dengan segera akan menuntut cara mengajar yag spesifik misalnya dengan memberikan cara menghafalkan unsur kimia dengan jembatan keledai.
b. Identifikasi jenis-jenis materi bahan ajar.
Jenis materi diketahui bervariasi seperti materi bersifat fakta, konsep, prinsip, prosedur. Selain itu terdapat jenis materi yang menekankan pada ranah afektif, psikomotor. Pada pembelajaran sains materi yang bersifat prinsip dan prosedural akan memilih strategi pengajaran praktikum. Berbagai jenis praktikum memiliki variasinya. Prkatikum yang bersifat guided dan free discovery/inquiry menghendaki variasi referensi yang harus diperoleh siswa baik melalui internet, perpustakaan, maupun wawancara pakar. Materi yang bersifat afektif seperti pemberian respon, penerimaan (apresiasi), internalisasi, dan penilaian. Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari keterampilan siswa dalam menggunakan mikroskop dan melakukan titrasi zat.
c. Memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Bahan ajar mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasarnya. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau psikomotorik.
d. Memilih sumber bahan ajar.
Sumber bahan ajar dapat diperoleh melalui internet, buku, wawancara pakar, ensiklopedi, kliping koran atau majalah yang tepat. 

Sumber:
Zulfiani, dkk. 2009. Strategi Pembelajaran Sains. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN.

Minggu, 29 Januari 2012

Tiga Teori yang Melandasi Pendidikan

(a) Teori Tabularasa (John Locke dan Francis Bacon)

Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet ot white paper avoid of all characters). Jadi, sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Anak dapat dibentuk sekehendak pendidiknya. Di sini kekuatan ada pada pendidik. Pendidikan dan lingkungan berkuasa atas pembentukan anak.

Pendapat John Locke seperti di atas dapat disebut juga empirisme, yaitu suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia itu timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk melalui alat indera.

Kaum behavioris juga berpendapat senada dengan teori tabularasa itu. Behaviorisme tidak mengakui adanya pembawaan dan keturunan, atau sifat-sifat yang turun-temurun. Semua Pendidikan, menurut behaviorisme, adalah pembentukan kebiasaan, yaitu menurut kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungan seorang anak.

 

(b) Teori Navitisme (Schopenhauer)

Lawan dari empirisme ialah nativisme. Nativus (latin) berarti karena kelahiran. Aliran nativisme berpendapat bahwa tiap-tiap anak sejak dilahirkan sudah mempunyai berbagai pembawaan yang akan berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing. Pembawaan anak-anak itu ada baik dan ada yang buruk. Pendidikan tidak perlu dan tidak berkuasa apa-apa.

Aliran Pendidikan yang menganut paham nativisme ini disebut aliran pesimisme. Sedangkan yang menganut empirisme dan teori tabularasa disebut aliran optimisme.

Kedua teori tersebut ternyata berat sebelah. Kedua teori tersebut ada benarnya dan ada pula yang tidak benarnya. Maka dari itu, untuk mengambil kebenaran dari keduanya, William Stern, ahli ilmu jiwa bangsa Jerman, telah memadukan kedua teori itu menjadi satu teori yang disebut teori konvergensi.

 

(c) Teori Konvergensi (William Stern)

Menurut teori konvergensi hasil pendidikan anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan dan lingkungan. Diakui bahwa anak lahir telah memiliki potensi yang berupa pembawaan. Namun pembawaan yang sifatnya potensial itu harus dikembangkan melalui pengaruh lingkungan, termasuk lingkungan pendidikan, oleh sebab itu tugas pendidik adalah menghantarkan perkembangan semaksimal mungkin potensi anak sehingga kelak menjadi orang yang berguna bagi diri, keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsanya.

Hak negara terhadap pengajaran dan pendidikan juga diterimanya dari Tuhan (bukan negara polisi atau totaliter), seperti hak orang tua terhadap anaknya. Tetapi, hak itu bukan karena kedudukannya sebagai orang tua, melainkan karena gezag atau kekuasaan yang menjadi milik negara untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsanya, yang sudah menjadi tujuan negara itu sendiri.

Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi warga negaranya, sesuai dengan dasar-dasar dan tujuan negara itu sendiri, yaitu mengatur kehidupan umum menurut ukuran-ukuran yang sehat sehingga menjadi bantuan bagi pendidikan keluarga dan dapat mencegah apa-apa yang merugikan perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya.

Apabila keluarga tidak mungkin lagi melaksanakan pendidikan seluruhnya (misalnya pendidikan kecerdasan, pengajaran, dan sebagian dari pendidikan sosial ; perkumpulan anak-anak), disitulah negara, sesuai dengan tujuannya, harus membantu orang tua dengan jalan mendirikan sekolah-sekolah dan badan-badan sosial lainnya. Demikian juga, negara berhak dan berkewajiban melindungi anak-anak, bila kekuatan orang tua – baik material maupun moral – tidak dapat mencukupi, misalnya karena kurang mampu, tidak sanggup, atau lalai.

Jadi, jelas di sini bahwa hak orang-orang itu tidak mutlak. Hak itu terikat oleh hukum alam dan hukum Tuhan, dan pendidikan itu harus pula sesuai dengan kesejahteraan umum. Tetapi, hak negara yang demikian (turut campur tangan) tidak untuk menduduki tempat orang tua, namun hanya untuk menambah yang kurang saja. Apabila perlu – misalnya, hak orang tua itu dicabut (gila dan sebagainya) – negara harus berusaha memberikan pendidikan kepada si anak, yang sedapat-dapatnya mendekati pendidikan keluarga si anak atau menyerahkan anak itu pada keluarga lain, tidak perlu menjadikan anak milik negara.

Lebih lanjut, negara harus berusaha dan memberi kesempatan agar semua warga negara mempunyai pengetahuan cukup tentang kewajiban-kewajiban sebagai warga negara dan sebagai anggota bangsa yang mempunyai tingkat perkembangan jasmani dan rohani yang cukup, yang diperlukan untuk kesejahteraan umum (pendidikan kewarganegaraan), dan tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan yang berlaku di negara yang bersangkutan.

Negara berhak memiliki sendiri apa yang perlu untuk pemerintahan dan untuk menjamin keamanan, juga untuk memimpin dan mendirikan sekolah-sekolah yang diperlukan untuk mendidik pegawai-pegawai dan tentaranya, asal pemimpin ini tidak mengurangi hak-hak orang tua.

 

Sumber :

Soetopo, Hendyat. 2005. Pendidikan dan Pembelajaran (Teori, Permasalahan, dan Praktek). Malang : UMM Press.